Menumpang Gaharu di Tanaman Sawit


Menumpang Gaharu di Tanaman SawitMenumpang Gaharu di Tanaman Sawit

Anda pasti sering mendengar istilah tumpangsari? Yakni salah satu sistem pertanian yang memadukan beberapa jenis tanaman dalam satu areal untuk mengefektifkan pemanfaatan lahan dan mendapatkan hasil panen yang berlipat ganda.

Ternyata sistem itu juga bisa dimanfaatkan di perkebunan sawit. Caranya dengan menumpangkan tanaman gaharu di antara sawit. Dengan begitu petani tak hanya dapat buah sawit tetapi juga mendapat rupiah dari gaharu serta yang terpenting ikut menyelamatkan lingkungan.
Program itulah yang coba dikembangkan oleh Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat (BPHPS) Kuok, Kabupaten Kampar. Institusi penelitian dan pengembangan tanaman hutan milik Departemen Kehutanan ini menerapkan metode penanaman gaharu di antara sawit sejak tahn 2006 lalu.
Menurut Syahrul Donie, Kepala BPHPS Kuok Kabupaten Kampar, program itu dilatarbelakangi fenomena masyarakat yang beramai-ramai menanam sawit karena nilai ekonomis yang menggiurkan. Namun di sisi lain penanaman sawit yang terlalu banyak terutama di daerah hulu sungai, berdampak tidak baik terhadap lingkungan. Penanam sawit dapat mereduksi air di daerah aliran sungai (DAS) yang dapat memicu kekeringan dan juga banjir di musim hujan.

Untuk menjembatani persoalan itulah, menurut Syahrul, makanya mereka mendorong dan mensosialisasikan penanaman gaharu di antara sawit. Keberadaan gaharu di antara sawit, selain dalam konteks perbaikan lingkungan (gaharu berkontribusi dalam perbaikan dan pembaharuan cadangan air dalam tanah), juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya selain mendapatkan sawit, masyarakat juga bisa memanen gaharu yang juga bernilai ekonomis tinggi.

Gaharu merupakan hasil hutan non kayu yang terdiri dari gumpalan padat kecoklatan dan berbau harum. Gaharu mempunyai bermacam khasiat selain sebagai nutfah juga dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan parfum, kosmetik hingga bahan dasar pengobatan penyakit.
BPHPS mengujicobakan program ini atau disebut dengan areal model Gaharu di antara Sawit di Desa Kembangdamai, Kecamatan Pagaran Tapah Darusalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. BPHPS membuktikan tanaman gaharu yang telah mereka bibitkan dapat ditanam bersandingan dengan kelapa sawit dan tidak mengganggu pertumbuhan kedua tanaman tersebut. Terbukti, sawit dan gaharu  menunjukkan perkembangan yang baik di areal tersebut.

Syahrul Donie menjelaskan bahwa perawatan tanaman gaharu di antara sawit tidak memerlukan teknik khusus. Bahkan, tambahnya, limbah dari pohon sawit bisa dijadikan pupuk bagi gaharu dan sawit sendiri. Yakni dengan memanfaatkan limbah pelepah sawit menjadi arang yang dijadikan pupuk sawit maupun gaharu.

“Pada areal tanah yang dikembangkan untuk sawit ini, memiliki PH asam dan kesuburan rendah. Untuk mengatasinya, kami melakukan percobaan agar pertumbuhan gaharu dan sawit bisa terus membaik. Kami menjadikan limbah arang pelepah sawit sebagai pupuk untuk sawit dan gaharu, dengan kapasitas enam kilogram arang per batang gaharu. Hasilnya cukup baik, hal ini ditunjukkan dengan indikator pertumbuhan gaharu yang semakin baik dan kenaikan pH tanah dari yang tadinya 3-4 menjadi 5-6,” papar Syahrul.

Edi Nurohman, tenaga teknisi BPHPS, lebih lanjut menjelaskan proses percobaan mereka di Desa Kembangdamai tersebut. Lahan sepuluh hektar yang berisi kebun sawit itu, menurutnya, dibagi dalam tiga kelompok. Masing-masing bagian dibuat konsep pelakuan jarak tanam. Bagian pertama terdiri dari 4 hektar dengan jarak tanam antara gaharu dan sawit sejauh 2 meter. Bagian kedua seluas 4 Ha, jarak tanamnya dibuat 3 meter, dan pada area ketiga, sisanya ditanami dengan jarak 2-3 meter.

Pelakuan jarak tanam dan pemberian pupuk arang pelepah kelapa sawit, menurut Edi, membuktikan dapat memberi efek yang sangat baik pada tanaman gaharu. Hal itu, katanya, terlihat dari pertambahan tinggi gaharu yang berumur 30 bulan atau 2,5 tahun dari enam bulan masa pemberian limbah arang pelepah sawit. Tanaman gaharu mengalami pertumbuhan hingga 70 persen sementara pertambahan diameter batang tanaman gaharu dengan umur yang sama bisa mencapai 72,20 persen.

Perawatan gaharu di antara sawit, tambah Edi, bisa dilakukan secara bersamaan. Edi menyebutkan gaharu tidak memerlukan cara perawatan khusus. Hanya saja membutuhkan kehati-hatian petani ketika membersihkan pelepah sawit agar pohon gaharu yang ada di bawahnya tidak rusak tertimpa pelepah. Selain itu kebersihan gaharu dari rumput liat di sekitarnya juga perlu diperhatikan.

BPHPS berharap upaya mereka membangun areal model gaharu di antara sawit di Desa Kembangdamai, Kecamatan Pagaran Tapah Darusasalam, Rokan Hulu ini dapat menjadi pilihan cerdas masyarakat. (*)

bibit-gaharu

[ketgambar]GAHARU: Bibit gaharu setinggi 1 meter siap ditanam. Bahan dasar pembuat parfum, kosmetik hingga bahan dasar obat itu dapat ditanam di sela-sela sawit.    // net [/ketgambar]

source : http://www.hariansumutpos.com/2010/01/27879/menumpang-gaharu-di-tanaman-sawit.html

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s