Menanam Gaharu di Antara Sawit, Boleh Juga!


AgriBisnis Senin, 20 Sep 2010 10:49 WIB
Pertanian polykultur atau sering juga disebut tanaman tumpang sari sepertinya merupakan suatu keharusan dalam sistem pertanian saat ini. Tidak saja pada tanaman hortikultura tapi tanaman keraspun sistem tumpang sari sudah dilakukan.
Alasannya bermacam-macam. Namun, yang jelas pertanian polykultur dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani pada lahan yang minim. Apalagi, saat ini lahan pertanian sudah semakin terbatas sementara kebutuhan terus meningkat.

Sistem pertanian polykultur (menanam lebih dari satu jenis komoditas pada lahan pertanian) sebenarnya sudah dilakukan masyarakat tani sejak dulu. Hanya saja, pengembangannya tidak maksimal. Biasanya tanaman tumpang sari dilakukan antara tanaman keras dengan tanaman semusim atau tanaman berumur pendek.

Misalnya antara tanaman jeruk dengan tanaman cabai atau tomat. Tapi, kali ini yang akan dibahas MedanBisnis, adalah tanaman tumpang sari antara kelapa sawit dengan tanaman gaharu. Kedua jenis komoditas ini merupakan tanaman keras dan tanaman berumur panjang. Bahkan gaharu merupakan tanaman hutan yang masih sebagian kecil masyarakat yang membudidayakannya.

Salah satu yang melakukan tumpang sari antara kelapa sawit dengan gaharu adalah Syamsul Sinaga. Meski masih dalam tahap uji coba namun Syamsul yakin kedua komoditas tersebut dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik sebagaimana yang diharapkannya.

Untuk saat ini, Syamsul masih mengembangkannya di atas lahan satu hektar. Gaharu dipilih sebagai tanaman tumpang sari dari kelapa sawit yang merupakan tanaman utama.

“Sebenarnya, tumpang sari yang saya lakukan ini sudah terlambat, kelapa sawit yang saya tanam sudah berumur sekitar delapan tahun. Sementara gaharu masih berkisar dua tahunan,” katanya ketika ditemui MedanBisnis, Jumat pekan lalu di kebun kelapa sawitnya di Desa Naga Rejo, Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang.

Syamsul yang juga pengusaha sekaligus penangkar berbagai jenis tanaman pertanian ini mengatakan, tumpang sari antara kelapa sawit dengan gaharu sebenarnya dapat dilakukan sejak tanaman sawit berumur empat tahunan. Karena kedua jenis tanaman itu mempunyai karakter yang berbeda. Kalau sawit mempunyai batang yang gemuk (besar) dengan pelepah daun yang panjang sehingga membutuhkan lahan yang luas dari jarak tanamnya. Sementara gaharu memiliki sifat batang yang tegak lurus menjulang ke atas.

Dan, pada saat umur sawit tidak produktif lagi (25 tahun-red), kata Syamsul maka gaharu itu menjadi tanaman utama. Memang, gaharu juga memiliki batang yang besar, hanya saja diamater batang yang besar dapat diperoleh setelah tanaman berumur puluhan tahun.

“Tadinya, areal perkebunan sawit itu saya jadikan sebagai tempat bibit-bibit tanaman yang baru selesai dibibitkan sebelum dipasarkan. Tapi, karena saya pikir tidak mengganggu aktivitas lainnya, maka saya mencoba untuk membuat tanaman sela di antara tanaman kelapa sawit. Dan, saya memilih gaharu sebagai tanaman tumpang sarinya,” aku Syamsul.

Gaharu lanjut bapak dua putra dan satu putri ini memiliki potensi yang luar biasa terutama dari getahnya yang bernilai jual tinggi. Meskipun saat ini pemasaran untuk daerah Sumatera Utara (Sumut) masih belum jelas. “Sambil menunggu berproduksi, kita akan mencari pemasaran getahnya. Karena sesuai informasi yang saya peroleh di Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara pemasarannya sudah ada dan harganya lumayan mahal,” sebutnya.

Saat ini gaharu yang dikembangkan Syamsul ada berkisar 1.000 batang. Tanaman tersebut tidak semuanya menjadi tanaman sela kelapa sawit. Sebagian ditanamnnya di lahan khusus tanpa ada tanaman lain. Dan, memang dari segi pertumbuhan menurut Syamsul sangat berbeda.

Pertumbuhan gaharu yang menjadi tanaman sela terbilang lambat terutama dari segi pertumbuhan batang, lebih kurus. Begitu juga dari ketinggian tanaman, lebih pendek. Beda dengan gaharu yang ditanam di lahan khusus pertumbuhan batangnya lebih besar dan tinggi tanaman lebih tinggi. Itu disebabkan pencahayaan sinar matahari yang masuk ke tanaman lebih banyak dibanding gaharu yang menjadi tanaman sela.

source : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/09/20/663/menanam_gaharu_di_antara_sawit_boleh_juga/

“Sebagian cahaya sudah tertutupi pelepah daun kelapa sawit, sehingga tidak semua tanaman gaharu terkena sinar matahari. Dan, itu menghambat proses fotosintesa tanaman tersebut,” ujar Syamsul. (Medanbisnis/junita sianturi)

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s