Korelasi Harga Minyak Sawit (Crude Palm Oil) dan Harga Minyak Bumi (Crude Oil) serta Kelayakan Konversi Palm-Biodiesel

Sentimen pemanfaatan minyak sawit (crude palm oil, CPO) sebagai bahan baku biodiesel telah menyebabkan permintaan terhadap CPO semakin meningkat. Hal ini terkait dengan sentimen pengunaan bahan bakar nabati sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak bumi (crude oil), terutama di tahun 2007.Harga CPO akan terus meningkat karena selain sentimen tentang pencarian bahan bakar alternatif termasuk biofuel berbahan baku CPO, juga karena peningkatan permintaan dari dua konsumen terbesar dunia, yakni India dan China, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut yang saat ini mencapai 8-10 persen per tahun.Sentimen tentang pemanfaatan minyak sawit menjadi bahan bakar nabati muncul ketika harga minyak bumi (crude oil) naik secara tajam di tahun 2007, dari sekitar US$50 menjadi US$90 per barrel. Pada saat yang sama harga CPO naik dari US$600 menjadi US$900 per metric-ton. Pergerakan harga CPO dan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 nampak pada Gambar 1 di bawah.Gambar 1. Pergerakan Harga CPO dan Crude Oil 1999-2007 (harga CPO dikalikan faktor 0.1)Pengujian statistik korelasi harga minyak sawit dengan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 menunjukkan bahwa minyak sawit dan minyak bumi memang berkorelasi positif sebesar 0.68. Pada periode 2006-2007, korelasi pergerakan harga minyak sawit dan minyak bumi adalah 0.73. Sementara jika dilihat pergerakan pada periode 1999-2005 korelasinya hanyalah 0.14. Korelasi sangat positif sebesar 0.97 terjadi di tahun 2007 sejalan dengan meningkatnya sentimen penggunaan minyak sawit untuk bio-diesel.Hasil pengujian korelasi dan regresi harga minyak sawit dan minyak bumi pada berbagai periode (1999-2007, 1999-2005, 2006-2007 dan 2007) terdapat pada Tabel 1. Pengujian ini dilakukan berdasarkan data bulanan harga minyak sawit (Rotterdam) yang penulis dapatkan dari web PT SMART Tbk . Sedangkan harga minyak bumi penulis peroleh dan olah dari data historis minyak bumi yang disediakan oleh Energy Information Administration, official energy statistics from the U.S. Government. Tabel 1. Uji Regresi Harga Minyak Sawit dan Minyak BumiDari hasil uji regresi pada Tabel 1 di atas, maka dengan menggunakan data pada periode 2007, hubungan antara minyak sawit (CPO) dengan minyak bumi (CO) dapat dituliskan sebagai:CPO = 82.82 + 10.05*CODengan demikian dapat disimpulkan, sentimen pemanfaatan minyak sawit menjadi bahan bakar telah mengakibatkan bergesernya peran minyak sawit sebagai komoditas bahan makanan menjadi komoditas energi.Sejak tahun 2003, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa telah bersepakat mencanangkan target penggunaan biofuel sebesar 2% hingga tahun 2005, kemudian meningkat menjadi 5,75% hingga tahun 2010, dan akan terus meningkat sebesar 10% hingga tahun 2020. Pada awal tahun ini Pemerintah Kerajaan Inggris juga telah mengumumkan suatu kebijakan, yaitu Kewajiban Transportasi Untuk menggunakan bahan bakar terbarukan (Renewable Transport Fuel Obligation – RTFO). Hal ini mengharuskan perusahaan menambah 5% biofuel kedalam semua bensin dan solar yang dijual di wilayah kerja mereka sebelum 2010. Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati, sedangkan petroleum diesel adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. Pencampuran 20 % biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata. Produk ini di Amerika dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak digunakan untuk bahan bakar bus.Penggunaan biodiesel juga dapat mengurangi emisi karbon monoksida, hidrokarbon total, partikel, dan sulfur dioksida. Emisi nitrous oxide juga dapat dikurangi dengan penambahan konverter katalitik. Kelebihan lain dari segi lingkungan adalah tingkat toksisitasnya yang 10 kali lebih rendah dibandingkan dengan garam dapur dan tingkat biodegradabilitinya sama dengan glukosa, sehingga sangat cocok digunakan di perairan untuk bahan bakar kapal/motor. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya petroleum diesel karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon.Dengan demikian, sejalan dengan semangan energi hijau, permintaan akan minyak sawit juga akan tumbuh tidak saja untuk memenuhi kebutuhan minyak makan, tetapi juga untuk memenuhi permintaan akan minyak bakar.Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif memang layak dan ekonomis untuk dilakukan?Kajian yang pernah dilakukan (lihat: Yahaya, Ahmad dan Kennedy. 2006. Impact on Biodiesel Development on Palm Oil Industry. Malaysian Journal of Economic Studies Vol. XXXXIII Nos. 1 & 2) menunjukkan keterkaitan antara profitabilitas biodiesel berbahan baku minyak sawit terhadap tingkat harga minyak bumi. Dalam kajian tersebut menyatakan bahwa biaya produksi palm biodiesel dapat dituliskan sebagai:PPD = 1.04 * (PCPO + 0.112PM + PC – 0.1PG)Dimana:
PPD = Biaya produksi palm biodiesel
PCPO = Harga CPO
PM = Harga methanol
PC = Biaya konversi CPO per ton
PG = Harga glicerol
Perhitungan profitabilitas palm biodiesel dilakukan dengan membandingkan biaya produksi palm biodiesel dengan biaya produksi petro diesel. Berdasarkan kajian tersebut, penulis mengolahnya menjadi sebuah persamaan berikut:LPCPO = 7.5723*PCO – 79.545Dimana:
LPCPO = Limit harga minyak sawit dalam US$/MT
PCO = Harga minyak bumi dalam US$/bbl
Persamaan di atas menyatakan bahwa sepanjang harga minyak sawit di pasar tidak lebih tinggi dari limit harga minyak sawit (LPCPO) dalam persamaan tersebut, maka melakukan konversi minyak sawit menjadi palm biodiesel akan menguntungkan.Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam gambar 2 di bawah.Gambar 2. Limit Harga Maksimal CPO untuk Konversi Bio DieselPada Gambar 2 tersebut terlihat, jika harga minyak bumi berada pada tingkat US$70/bbl, maka mengkonversi minyak sawit menjadi minyak diesel akan menguntungkan selama harga minyak sawit di pasar tidak lebih dari US$451/MT.Jika kita melihat harga minyak sawit saat ini (Desember 2007) pada tingkat US$900/MT dan harga minyak bumi pada tingkat US$90/bbl, maka dapat disimpulkan melakukan konversi minyak sawit untuk diolah menjadi minyak diesel secara ekonomis tidak akan menguntungkan.Namun demikian, pengolahan minyak sawit menjadi minyak diesel akan tetap dilakukan di berbagai tempat dan wilayah, misalnya saja yang terjadi kawasan Eropa karena adanya regulasi yang mewajibkan penggunaan biofuel, ataupun karena faktor lainnya.Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan biodiesel antara lain adalah:1. Kyoto Protocol, yang mengatur emisi karbon.
2. Regulasi, misalnya kewajiban penggunaan energi hijau, pengurangan pajak untuk menggunaan energi hijau sebagaimana yang diberlakukan di Eropa.
3. Masalah keamanan, misalnya yang terkait dengan ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah sebagai pemasok utama minyak bumi.
4. Proteksi pemerintah, berupa dukungan untuk petani dan perkebunan di suatu negara.
5. Meningkatnya kebutuhan energi dunia, seperti yang terjadi di China dan India akhir-akhir ini.
Oleh karenanya patut disadari bahwa keterkaitan harga minyak sawit dengan minyak bumi sebenarnya sangat bervariasi tergantung dari kekuatan faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut dan juga pada berbagai kurun waktu di mana faktor-faktor tersebut berpengaruh.

Pos ini dipublikasikan di Kelapa Sawit. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Korelasi Harga Minyak Sawit (Crude Palm Oil) dan Harga Minyak Bumi (Crude Oil) serta Kelayakan Konversi Palm-Biodiesel

  1. wahyudi kuncoro berkata:

    Penggunaan biofuel sebagai upaya implementasi protocol kyoto dalam pengurangan emisi karbon harusnkita lihat sebai peluang ekonomi bagi bangsa kita. Kita memiliki wilayah yang luas dan sebagian besar tidak dimanfaatkan secara ekonomis-produktif. Lahan tidur masih membentang luas di Kalimantan-sulawesi dan kalimantan.
    Ini adalah peluang untuk meningkatkan geliat ekonomi ekonomi diluar pulau jawa, denagan booming nya perkebunan sawit adalah kesempatan desentralisasi ekonomi ke seluruh wilayah Indonesia. jangan sampai perkebunan di Kalimantan-sulawesi-papua tetapi yang mendapat manfafat langsung adalah orang jawa.
    Pemanfatan lahan yang tidur harus dipastikan lahan tersebut betul-betul lahan yang tdk produktif jangan sampai terjadi konversi lahan dari lahan pertanian mjd lahan sawit,karena hal ini kedepan hanya akan memindah masalah, masalah energy berubah menjadi krisis pangan dan terancamnya swasembada pangan. Selain itu kepemilikan lahan harus diatur supaya kepemilkan lahan plasma benar-benar dimiliki masyarakat setempat, jangan sampai masyarakat lokasi perkebunan hanya menjadi penonton dan buruh perkebunan…..pemerintah harus memberi regulasi yang jelas, dan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat meiliki andil yang besatr dalam upaya pemertaan kepemilikan lahan plasma.

    semoga boomimg bo fuel menjadi kendaraan pengentas kemiskinan…..jangan hanya menjadi TKI/TKW tetapi menjadi macan asia….

    salam, Kotabaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s